Daya Dimensi Indonesia menghadirkan perspektif baru tentang transformational leadership dengan menjadi tuan rumah Richard Barrett, pemikir terkemuka sekaligus pelopor model “7 Levels of Consciousness”, dalam workshop eksklusif di kantor Mega Kuningan, Jakarta, pada Senin, 9 Februari 2026. Dihadiri para pemimpin lintas industri, sesi ini mengeksplorasi pergeseran paradigma penting bernama Frequency-Based Leadership. Di era ketika model tradisional makin tertekan oleh kompleksitas global, Barrett berargumen bahwa dunia modern tidak lagi membutuhkan pemimpin yang ‘lebih lantang’, melainkan pemimpin yang ‘lebih autentik’—kepemimpinan yang tidak lagi ditentukan oleh peran, tetapi oleh resonansi.
Pada 9 Februari 2026, Daya Dimensi Indonesia merasa terhormat menjadi tuan rumah Richard Barrett—pemikir terkemuka sekaligus pelopor model “7 Levels of Consciousness” untuk budaya korporat dan pertumbuhan individu—dalam workshop eksklusif di kantor Mega Kuningan.
Dihadiri para pemimpin lintas industri, sesi ini mengeksplorasi pergeseran paradigma kritis yang disebut Frequency-Based Leadership.
Di era ketika model tradisional makin tertekan oleh kompleksitas global, Barrett berargumen bahwa dunia modern tidak lagi membutuhkan pemimpin yang ‘lebih lantang’, melainkan pemimpin yang ‘lebih autentik’. Workshop menegaskan bahwa kepemimpinan tidak lagi ditentukan oleh peran, melainkan oleh resonansi.
Karena orang merespons kehadiran seorang pemimpin sebelum posisinya, apa yang dipancarkan pemimpin secara energetik sering kali lebih berbobot daripada apa yang ia katakan. Inilah inti transformational leadership yang dibawa Barrett.
Konsep ‘Inner Architecture’ dari Barrett mengajarkan bahwa pengaruh sejati dirasakan sebelum dipahami. Hal ini menuntut pemimpin beralih dari state of control menuju state of coherence—dari mengendalikan menuju menyelaraskan.
Pendekatan ini menegaskan bahwa transformational leadership bukan sekadar teknik, melainkan perjalanan batin yang membentuk cara pemimpin hadir dan memengaruhi orang lain.
Dengan memadukan kerangka visioner Richard Barrett dan implementasi strategis Daya Dimensi Indonesia, organisasi dapat mengembangkan pemimpin yang tidak hanya mengelola sistem, tetapi mentransformasinya melalui kehadiran mereka.
Pesan utamanya jelas: kepemimpinan pada akhirnya dimulai dari dalam diri. Transformasi organisasi yang sejati berakar pada transformasi pribadi para pemimpinnya.
Daya Dimensi Indonesia adalah business unit Dayalima Group yang berfokus pada pengembangan kepemimpinan dan transformasi organisasi. Dengan menghadirkan pemikir global seperti Richard Barrett, Dayalima menegaskan komitmennya membawa perspektif transformational leadership terkini bagi para pemimpin di Indonesia.
Pemikir terkemuka dan pelopor model “7 Levels of Consciousness” untuk budaya korporat dan pertumbuhan individu, yang dihadirkan Daya Dimensi Indonesia dalam workshop eksklusif.
Paradigma kepemimpinan yang menekankan bahwa pengaruh pemimpin ditentukan oleh resonansi dan kehadiran energetik, bukan sekadar peran atau otoritas.
Gagasan Barrett bahwa pengaruh sejati dirasakan sebelum dipahami, menuntut pemimpin beralih dari state of control menuju state of coherence.
Sebagai perjalanan batin yang mengubah cara pemimpin hadir—kepemimpinan yang mentransformasi sistem melalui kehadiran, bukan hanya mengelolanya.
Sebuah riset assessment center pertama di tingkat doktoral di Indonesia menantang asumsi yang puluhan tahun dianggap benar dalam cara organisasi memilih pemimpin. Dr. Maharani Syahratu Kertapati, Future of Work Group Head Daya Dimensi Indonesia, menyelesaikan disertasinya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada 6 Januari 2026 setelah enam tahun penelitian. Temuan utamanya menegaskan bahwa kejelasan definisi kompetensi yang diukur jauh lebih menentukan akurasi penilaian daripada kompleksitas metode yang digunakan. Riset ini juga membuktikan bahwa impresi awal asesor terhadap kandidat dapat mengontaminasi objektivitas penilaian—sebuah peringatan penting bagi setiap praktisi HR yang mengandalkan metode ini untuk keputusan talenta strategis.
Pada 6 Januari 2026, di ruang sidang Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, sebuah pertanyaan sederhana akhirnya mendapat jawaban ilmiah setelah enam tahun pencarian: apakah kesan pertama seorang asesor terhadap kandidat bisa merusak objektivitas penilaian? Menurut Dr. Maharani Syahratu Kertapati, jawabannya ya, dan dampaknya lebih besar dari yang banyak orang kira.
Disertasi berjudul “Pengaruh Impresi Awal Asesor terhadap Akurasi Penilaian dalam Metode Assessment Center pada Dimensi Ukur dan Jenis Simulasi yang Berbeda” ini merupakan penelitian tingkat doktoral pertama di Indonesia yang secara khusus membedah metode assessment center—metode yang sudah puluhan tahun digunakan untuk memilih pemimpin di ratusan perusahaan dan lembaga negara.
Penelitian dilakukan di bawah bimbingan Prof. Dr. Guritnaningsih sebagai promotor, bersama Dr. Dewi Maulina dan Drs. R. Urip Purwono sebagai ko-promotor, di laboratorium PsyTrust, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Maharani mencatat bahwa di seluruh dunia baru ada segelintir paper akademik tentang pengaruh impresi awal di assessment center, menjadikan riset ini kontribusi langka secara global.
Assessment center adalah metode evaluasi yang menggunakan beragam simulasi dan dimensi ukur untuk menilai potensi serta kompetensi seseorang, terutama untuk posisi kepemimpinan. Metode ini dirancang justru untuk meminimalkan bias dengan mengandalkan observasi perilaku, bukan sekadar kesan subjektif.
Namun nilai tambah terbesar dari assessment center seharusnya adalah accountability—dan menurut Maharani, accountability tertinggi adalah yang berbasis bukti ilmiah. Inilah yang mendorongnya menggali tumpukan data asesmen yang kaya namun selama ini hanya dipakai untuk kebutuhan praktis, belum untuk kontribusi ilmiah.
Jika ada satu hal yang ingin Maharani sampaikan kepada praktisi HR Indonesia, inilah intinya: kejelasan definisi kompetensi yang diukur jauh lebih menentukan akurasi penilaian daripada kompleksitas metode yang digunakan. Dimensi yang didefinisikan dengan jelas dan terstruktur membuat asesor lebih mudah menilai secara akurat, sementara dimensi abstrak membuat kualitas penilaian menjadi tidak terarah.
Contoh paling gamblang adalah integritas. Klien kerap meminta agar integritas calon pemimpin diukur, padahal mengukur integritas dari tiga jam pelaksanaan assessment adalah lompatan yang sangat jauh. Persoalan fundamentalnya, integritas berarti hal yang berbeda di kepala setiap orang—jika definisinya saja berbeda, akurasi penilaian mustahil terjaga.
Solusinya bukan menghindari pengukuran nilai abstrak, melainkan memecahnya menjadi perilaku spesifik yang dapat diobservasi. Alih-alih mengukur ‘integritas’ sebagai satu label besar, kompetensi itu dapat diuraikan menjadi kepatuhan terhadap aturan, konsistensi antara ucapan dan tindakan, serta keberanian menyampaikan kebenaran di situasi sulit.
Dengan operasionalisasi yang jelas seperti ini, asesor memiliki patokan yang konkret—membuat metode assessment center menghasilkan penilaian yang jauh lebih dapat diandalkan.
Temuan kedua yang tidak kalah penting adalah soal impresi awal asesor. Dalam praktik sehari-hari, banyak asesor membaca CV atau profil kandidat sebelum sesi dimulai dengan harapan ‘lebih siap’. Penelitian Maharani menunjukkan justru sebaliknya.
Impresi awal yang terbentuk sebelum assessment formal dimulai dapat mengontaminasi penilaian akhir. Asesor yang sudah memiliki gambaran tentang kandidat cenderung mencari konfirmasi atas gambaran tersebut, alih-alih menilai secara objektif berdasarkan perilaku yang ditampilkan. Implikasinya jelas: prosedur yang selama ini dianggap membantu justru dapat merusak validitas hasil.
Maharani memahami bahwa temuan akademis tidak selalu mudah diterapkan. Meski ada International Guidelines on Assessment Center Practice dan pedoman etika pelaksanaan di Indonesia, praktik di lapangan kerap dimodifikasi karena keterbatasan waktu atau anggaran.
Salah satu yang paling sering diabaikan adalah pelatihan asesor. Banyak asesor dipekerjakan tanpa training memadai, hanya bermodalkan pengalaman tanpa verifikasi lebih lanjut. Padahal standar internasional menegaskan asesor harus dilatih untuk setiap proyek baru, terutama bila konteks perusahaan atau posisi yang dinilai berbeda dari sebelumnya.
Pendekatan ilmiah ini tidak menafikan nilai intuisi. Maharani mengakui adanya tacit knowledge—pengetahuan yang hanya dimiliki seseorang karena bertahun-tahun pengalaman—yang nyata dan berharga. Namun masalahnya, tacit knowledge tidak reliable secara organisasional: ketika orang itu pergi, pengetahuannya ikut hilang dan tidak dapat diwariskan.
Pendekatan ilmiah menawarkan sesuatu yang berbeda: dokumentasi, standarisasi, dan kemampuan untuk diuji ulang. Inilah yang membuat assessment center yang dijalankan dengan disiplin ilmiah dapat dipertanggungjawabkan lintas waktu dan tim.
Mengapa semua ini penting? Maharani menjawab dengan pertanyaan balik: berapa biaya yang harus ditanggung organisasi ketika salah memilih pemimpin? Assessment bukan satu-satunya dasar keputusan, tetapi kerap menjadi pertimbangan yang paling diterima berbagai pemangku kepentingan, terutama untuk posisi strategis.
Kesalahan di level kepemimpinan bukan kesalahan kecil. Ketika organisasi salah memilih pemimpin, arah organisasi bisa keliru, dan efeknya berjangka panjang serta sulit diperbaiki. Fungsi assessment di sini adalah meminimalkan risiko—memastikan keputusan strategis didasarkan pada bukti, bukan sekadar kesan personal.
Bagi Maharani, perjalanan justru baru dimulai. Ia menempuh studi lanjut karena merasa ilmu sebelumnya tidak cukup menghadapi tantangan masa depan, seiring kebutuhan klien akan assessment yang terus berubah.
Soal apakah assessment center akan digantikan AI, ia menekankan jawaban harus berbasis bukti. Pertanyaannya bukan apakah AI menggantikan manusia, melainkan bagian mana yang dapat digantikan dan bagian mana yang tidak. Asumsi semata tidak cukup—diperlukan evidence untuk menjawabnya secara bertanggung jawab.
Di akhir, Maharani mengajak para pemimpin berdiskusi atas pertanyaan yang sering belum terjawab: apakah asesor boleh membaca CV sebelum menilai? Apakah simulasi harus sekompleks mungkin? Apakah makin banyak dimensi yang diukur makin baik? Ajakannya adalah diskusi yang berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah—bukan sekadar prosedural.

Dr. Maharani Syahratu Kertapati adalah Future of Work Group Head Daya Dimensi Indonesia, memimpin Applied Science and Imagination Center (ASIC)—unit riset dan pengembangan internal perusahaan. Daya Dimensi Indonesia, bagian dari Dayalima Group, dikenal sebagai pionir metode assessment center di Indonesia. Riset ini menegaskan komitmen perusahaan menghadirkan praktik talenta yang berbasis bukti ilmiah, bukan sekadar tradisi.
Metode evaluasi yang menggunakan beragam simulasi dan dimensi ukur untuk menilai potensi dan kompetensi seseorang—terutama untuk posisi kepemimpinan—dengan mengandalkan observasi perilaku, bukan kesan subjektif.
Kejelasan definisi kompetensi yang diukur jauh lebih menentukan akurasi penilaian daripada kompleksitas metode yang digunakan.
Karena impresi awal yang terbentuk sebelum assessment dimulai dapat mengontaminasi penilaian—asesor cenderung mencari konfirmasi atas gambaran awal, bukan menilai perilaku secara objektif.
Menurut riset ini, jawabannya harus berbasis bukti: pertanyaannya bukan apakah AI menggantikan manusia, melainkan bagian mana yang dapat digantikan dan bagian mana yang tidak.
Membahas isu future of work yang semakin mendesak, Dayalima Group menghadirkan Prof. Phanish Puranam, Professor of Strategy INSEAD, dalam masterclass “Re-humanize: Building Human-Centric Organizations in the Age of Algorithms” di kantor Mega Kuningan, Jakarta pada 14 Februari 2025. Sesi yang dimoderatori Joshua Paundra, Associate Director Dayalima Group, menyoroti dampak transformatif AI terhadap struktur organisasi sekaligus pentingnya mempertahankan pendekatan human-centric di tengah percepatan teknologi. Pesan utamanya jelas: teknologi memang membentuk ulang dunia kerja, namun manusia tetap memegang pilihan untuk menjadikannya alat yang mendukung pertumbuhan, bukan sumber ketergantungan.

Pada 14 Februari 2025, Dayalima Group menjadi tuan rumah bagi Prof. Phanish Puranam untuk masterclass bertajuk “Re-humanize: Building Human-Centric Organizations in the Age of Algorithms”, yang diangkat dari bukunya dengan judul serupa. Acara berlangsung di kantor Dayalima Mega Kuningan, Jakarta.
Sesi ini dimoderatori oleh Joshua Paundra, Associate Director Dayalima Group, dan menghadirkan wawasan mendalam tentang bagaimana organisasi dapat tetap berpusat pada manusia di era ketika algoritma semakin mendominasi pengambilan keputusan.
Prof. Puranam menggarisbawahi dampak transformatif kecerdasan buatan terhadap struktur organisasi. Pertanyaan besar yang muncul bukan apakah teknologi akan mengubah dunia kerja, melainkan bagaimana manusia menyikapi perubahan tersebut.
Sementara teknologi membentuk ulang tempat kerja, manusia memiliki pilihan: menjadi bergantung pada teknologi, atau memanfaatkannya sebagai alat yang mendukung pertumbuhan dan pengembangan. Pilihan inilah yang akan menentukan masa depan dunia kerja di Indonesia dan global.
Inti dari masterclass adalah ajakan untuk ‘re-humanize’—mengembalikan peran sentral manusia di tengah otomatisasi. Organisasi human-centric tidak menolak teknologi, melainkan mengintegrasikannya secara bijak agar AI memperkuat kapabilitas manusia, bukan menggantikan nilai dan keterlibatan yang membuat organisasi tetap hidup.
Adopsi AI yang berhasil membutuhkan lebih dari sekadar teknologi—ia memerlukan organizational development yang matang. Penyelarasan struktur, budaya, dan kapabilitas manusia menjadi kunci agar transformasi digital tidak kehilangan dimensi kemanusiaannya. Di sinilah peran konsultan pengembangan organisasi menjadi krusial.
Dayalima Group adalah kelompok bisnis people strategy yang membantu organisasi mengoptimalkan potensi manusia melalui pendekatan berbasis sains dan inovasi. Dengan menghadirkan masterclass berstandar global, Dayalima menegaskan komitmennya menyediakan wawasan future of work yang relevan bagi para pemimpin organisasi di Indonesia.
“Re-humanize: Building Human-Centric Organizations in the Age of Algorithms” yang dibawakan Prof. Phanish Puranam, Professor of Strategy INSEAD.
Teknologi membentuk ulang dunia kerja, tetapi manusia tetap memegang pilihan untuk menjadikan AI sebagai alat pendukung pertumbuhan, bukan sumber ketergantungan.
Karena keputusan, budaya, dan inovasi tetap bergantung pada manusia—organisasi yang human-centric mampu memanfaatkan AI tanpa kehilangan nilai dan keterlibatan karyawan.
Melalui solusi organizational development dan transformasi yang menyeimbangkan adopsi teknologi dengan pengembangan kapabilitas manusia.
Dayalima Group mengambil peran strategis dalam membentuk masa depan kebijakan berbasis nilai melalui Values 20 (V20), engagement group resmi G20 yang relevan dengan agenda future of work global. V20 adalah komunitas global pakar dan praktisi nilai yang bertujuan memberi G20 solusi kebijakan berbasis bukti dan berpusat pada manusia untuk menjawab tantangan dunia. Diluncurkan pada 2020 dengan tema “Value of Values” dan berlanjut dengan “Values in Action”, V20 menghasilkan rekomendasi yang dipresentasikan kepada para kepala negara G20. Pada V20 2022, CEO Daya Dimensi Indonesia Yuri Yogaswara dan Direktur Dayalima Abisatya Meike Malaon bertindak sebagai Co-Chairs.
Values20, atau disingkat V20, adalah komunitas global yang terdiri dari pakar dan praktisi nilai yang secara aktif terlibat dengan Group of Twenty (G20). Komunitas ini bertujuan memperdalam pemahaman tentang peran nilai dalam kebijakan publik, dengan misi menyediakan solusi kebijakan berbasis bukti dan berpusat pada manusia.
Solusi yang dirumuskan V20 diarahkan untuk membantu G20 mengatasi tantangan global. Komunitas ini telah menghasilkan rekomendasi dan kebijakan berdampak tinggi yang dipresentasikan kepada para Kepala Negara G20 untuk dipertimbangkan dan diaktivasi.
Pada V20 2022, CEO Daya Dimensi Indonesia, Yuri Yogaswara, dan Direktur Dayalima Abisatya, Meike Malaon, dipercaya menjadi Co-Chairs menyusul penunjukan sebagai bagian dari Organizing Committee tahun tersebut. Peran ini menegaskan posisi Dayalima Group sebagai kontributor pemikiran di tingkat forum kepemimpinan global.
Keterlibatan Dayalima dalam leadership forum berskala internasional seperti V20 memperkuat reputasi Indonesia sebagai pemain aktif dalam dialog kebijakan global yang berpusat pada nilai dan manusia.
Rekomendasi V20 yang berpusat pada manusia sangat relevan dengan agenda future of work—bagaimana nilai, etika, dan kesejahteraan manusia tetap menjadi pertimbangan utama di tengah transformasi dunia kerja. Pendekatan ini menjadikan V20 sebagai jembatan antara kebijakan global dan praktik organisasi di lapangan.
V20 memulai perjalanannya pada 2020 dengan fokus pada ‘Value of Values’, lalu berlanjut pada 2021 dengan tema ‘Values in Action’. Evolusi tema ini menunjukkan komitmen V20 untuk tidak berhenti pada wacana, melainkan mendorong implementasi nilai secara konkret dalam kebijakan dan praktik.
Daya Dimensi Indonesia dan Dayalima Abisatya adalah bagian dari Dayalima Group yang fokus pada pengembangan kepemimpinan dan strategi manusia. Keterlibatan dalam V20 mencerminkan visi Dayalima membentuk pemimpin yang memajukan kemanusiaan—Leaders of a New Planet.
Komunitas global pakar dan praktisi nilai yang terhubung dengan G20 untuk menyediakan solusi kebijakan berbasis bukti dan berpusat pada manusia.
CEO Daya Dimensi Indonesia Yuri Yogaswara dan Direktur Dayalima Abisatya Meike Malaon menjabat sebagai Co-Chairs V20 2022.
V20 merumuskan rekomendasi kebijakan berpusat pada manusia yang relevan dengan transformasi dunia kerja dan tantangan future of work global.
Informasi tersedia di situs resmi values20.org dan kanal komunikasi Dayalima Group.
Sebagai bagian dari komitmen corporate social responsibility, Yayasan Indonesia Lebih Baik (YILB)—lembaga nirlaba Keluarga Dayalima—bersama PT Jasa Raharja meluncurkan Jasa Raharja Resilience Program untuk memberdayakan penyandang disabilitas. Program pelatihan bersertifikat ini membekali keterampilan di dua bidang: digital melalui basic coding dan hospitality melalui pelatihan barista. Berlangsung intensif selama tiga bulan pada 2021, program ini diikuti 40 peserta terpilih dari 593 pendaftar, mencakup penyandang disabilitas daksa, netra, rungu, tuli, dan autisme dari seluruh Indonesia. Inisiatif ini menegaskan peran Dayalima Group dalam menciptakan dampak sosial nyata dan membuka peluang karier yang setara bagi komunitas disabilitas.

Pada Mei 2021, PT Jasa Raharja—Member of Indonesia Financial Group (IFG)—melalui Yayasan Indonesia Lebih Baik memberikan kesempatan kepada penerima manfaat dan masyarakat disabilitas dari seluruh Indonesia untuk menambah kemampuan di bidang digital dan hospitality melalui Jasa Raharja Resilience Program.
Program ini merupakan pelatihan bersertifikat yang berlangsung intensif selama tiga bulan penuh, mulai Juni hingga Agustus 2021. Pelaksanaannya seluruhnya daring dengan tambahan tiga hari luring khusus untuk program barista, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.
Resilience Program membekali peserta kemampuan teknis di dua bidang. Pertama, bidang digital berupa basic coding yang membuka peluang karier di sektor teknologi. Kedua, bidang hospitality berupa pelatihan dasar menjadi barista yang membuka jalan menuju industri jasa.
Pemilihan dua jalur ini bukan tanpa alasan—keduanya merupakan keterampilan dengan permintaan tinggi sekaligus memberi ruang bagi penyandang disabilitas untuk mandiri secara ekonomi.
Program dikhususkan bagi dua golongan: penyandang disabilitas penerima manfaat Jasa Raharja akibat kecelakaan lalu lintas, serta disabilitas umum berusia 18 hingga 35 tahun di Indonesia. Dari 593 pendaftar yang mengikuti asesmen digital dan tes logika, terpilih 40 peserta.
Kelas basic coding diikuti 30 orang—terdiri dari 21 disabilitas daksa, 5 netra, 3 rungu, dan 1 disabilitas emosi (spektrum autisme)—dari berbagai penjuru Indonesia. Sementara kelas barista diikuti 5 disabilitas tuli dan 5 disabilitas netra dari Jabodetabek.

Program resmi dibuka secara daring oleh Kepala Divisi Keuangan PT Jasa Raharja, Triyugara, yang menyampaikan rasa syukur dan kebanggaan atas inisiatif bersama Jasa Raharja dan YILB dalam mendukung disabilitas Indonesia menjadi berdaya di tengah pandemi.
Acara Kick Off juga dihadiri dua perwakilan peserta, Yacob dan Molly. Yacob berharap program menjadi awal dari lebih banyak inisiatif pemberdayaan disabilitas, sementara Molly menyampaikan harapan untuk memulai karier di bidang digital setelah mengikuti program.
Program ini memperlihatkan manfaat CSR perusahaan yang berorientasi pada inklusi: menciptakan kesempatan setara, mendorong kemandirian ekonomi, dan memperkuat nilai sosial perusahaan. Lebih dari sekadar pelatihan, inisiatif ini membangun jembatan menuju dunia kerja yang lebih inklusif.
Yayasan Indonesia Lebih Baik (YILB) merupakan bagian nirlaba dari Keluarga Dayalima yang berdiri sejak 2005 untuk mewadahi aspirasi unit bisnis Dayalima dalam memberikan kontribusi bagi perbaikan masyarakat. Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, Dayalima Group telah membantu ratusan organisasi dan puluhan ribu eksekutif di Indonesia.
Program pelatihan bersertifikat hasil kolaborasi Jasa Raharja dan Yayasan Indonesia Lebih Baik (Dayalima Group) yang membekali penyandang disabilitas keterampilan coding dan barista.
Penyandang disabilitas penerima manfaat Jasa Raharja akibat kecelakaan lalu lintas serta disabilitas umum berusia 18–35 tahun di Indonesia.
Lembaga nirlaba bagian dari Keluarga Dayalima sejak 2005 yang mewadahi kontribusi unit bisnis Dayalima bagi perbaikan masyarakat.
Menciptakan dampak sosial nyata melalui pemberdayaan ekonomi inklusif sekaligus memperkuat keberlanjutan dan reputasi perusahaan.
Guru Pembangun Peradaban (GPP) adalah program corporate social responsibility Dayalima Group yang membangun karakter bangsa melalui edukasi nilai antikorupsi bagi para guru. Merupakan hasil kolaborasi Dayalima Abisatya dengan Pemerintah Kota Surabaya, SPAK Indonesia, Paragon, Semen Indonesia, dan Bank Mandiri, program ini dilaksanakan dalam tujuh batch untuk pengajar tingkat sekolah dasar dan menengah. Diluncurkan di Balai Kota Surabaya pada Desember 2019, GPP menggunakan metode pembelajaran berbasis permainan agar nilai-nilai antikorupsi tersampaikan dengan menyenangkan. Melalui pelatihan Training for Trainer, para guru dibekali kemampuan menanamkan kebiasaan baik sederhana yang menjadi fondasi pencegahan korupsi di generasi penerus.
Guru Pembangun Peradaban berangkat dari sebuah refleksi sederhana: mengapa kita perlu mengantri dengan sabar, berpikir rasional saat menghadapi kemarahan, atau berterima kasih kepada orang yang membantu. Kebaikan sehari-hari yang tampak kecil itu justru menjadi tameng dari perilaku yang merugikan banyak pihak, yakni korupsi.
Bagi Dayalima, guru adalah pengajar hidup—orang tua kedua, mentor, sekaligus pendidik nilai yang akan dibawa anak didik hingga dewasa. Program ini hadir untuk memperkuat peran mulia tersebut dengan membekali guru kemampuan menjelaskan nilai antikorupsi secara sederhana sehingga dipahami seluruh lapisan anak didik.
GPP merupakan hasil kolaborasi Dayalima Abisatya dengan Pemerintah Kota Surabaya, SPAK Indonesia, Paragon, Semen Indonesia, dan Bank Mandiri. Program dilaksanakan dalam tujuh batch untuk membangun karakter bangsa melalui edukasi nilai antikorupsi kepada pengajar di tingkat sekolah dasar dan menengah, dan resmi diluncurkan di Graha Sawunggaling, Balai Kota Surabaya pada 5 Desember 2019.
Kolaborasi lintas institusi ini menjadi contoh nyata bagaimana program CSR Dayalima Group menggandeng pemerintah, komunitas, dan korporasi untuk menciptakan dampak sosial yang lebih luas dan berkelanjutan.
Salah satu keunikan GPP adalah penggunaan media permainan sebagai cara belajar. Permainan yang dirancang khusus mampu menyampaikan pendidikan antikorupsi yang bermakna dengan cara menyenangkan. Pendekatan ini menegaskan bahwa hal-hal kecil di sekitar kita dapat menjadi sarana mengajarkan nilai-nilai baik.
Paparan ‘Membangun Budaya Antikorupsi’ dalam pelatihan menekankan pesan kuat: kita terbiasa membenarkan yang biasa, padahal seharusnya membiasakan yang benar. Pelatihan ini tidak menuntut peserta menjadi pribadi sempurna, melainkan berkomitmen mengurangi perilaku koruptif dan menjadi lebih baik setiap hari.
Batch pertama pelatihan Training for Trainer (TfT) GPP diadakan pada Juli 2020, diikuti perwakilan guru SMP se-Surabaya dengan tema “Kolaborasi Wujudkan Cita-Cita Membangun Generasi Antikorupsi” bersama narasumber Gandjar Laksamana Bonaprapta. Pada hari ketiga, peserta mempraktikkan langsung pola penyampaian nilai antikorupsi agar mudah dipahami murid.
Para guru memposisikan diri sebagai pemain—layaknya murid yang mencoba permainan antikorupsi—sehingga mereka memahami cara menyampaikan materi dengan sederhana dan rendah hati ketika kembali ke kelas masing-masing.
Melalui GPP, manfaat CSR perusahaan terlihat nyata: bukan sekadar kegiatan filantropi, melainkan investasi jangka panjang pada karakter bangsa. Dengan mencetak guru yang mampu menanamkan nilai antikorupsi, program ini berkontribusi membentuk generasi penerus yang lebih berintegritas.
Dayalima Abisatya adalah partner strategis yang mendukung transformasi pribadi dan organisasi melalui solusi berbasis kemanusiaan yang didukung teknologi. Inisiatif sosial seperti GPP merupakan bagian dari komitmen Keluarga Dayalima untuk berperan aktif memberikan kontribusi nyata bagi perbaikan masyarakat dan negeri.
Program CSR Dayalima Group yang melatih guru sekolah dasar dan menengah menanamkan nilai antikorupsi melalui metode pembelajaran berbasis permainan.
Dayalima Abisatya bersama Pemerintah Kota Surabaya, SPAK Indonesia, Paragon, Semen Indonesia, dan Bank Mandiri.
Dengan menggandeng mitra pemerintah dan komunitas, merancang kurikulum nilai yang relevan, serta melatih multiplikator (guru) lewat pendekatan Training for Trainer.
Membangun dampak sosial berkelanjutan pada pendidikan karakter bangsa sekaligus memperkuat reputasi dan nilai keberlanjutan perusahaan.
Dayalima Group bersama 12 pemimpin nasional membentuk Rumah Mentor Indonesia (RUMI) untuk memperkuat talent ecosystem kepemimpinan di Indonesia. Merespons prediksi Boston Consulting Group tentang krisis pemimpin bisnis di berbagai level manajemen, RUMI hadir sebagai lembaga independen yang diinisiasi bersama Daya Dimensi Indonesia untuk membimbing generasi pemimpin berikutnya. Kedua belas pemimpin tersebut bertindak sebagai Steering Committee dan menandatangani nota kesepahaman pada 12 Maret 2020 di Jakarta. Melalui program one-on-one mentoring dan group mentoring, RUMI berkomitmen memutus gap antar-generasi pemimpin sekaligus mendukung pemerintah membangun sumber daya manusia unggul yang mampu bersaing hingga level internasional.
Menurut riset Boston Consulting Group, Indonesia diprediksi mengalami krisis pemimpin di dunia bisnis pada berbagai level manajemen, baik secara kualitas maupun kuantitas. Tantangan ini perlu mendapat perhatian besar agar Indonesia tidak tertinggal di tengah kemajuan era digital dan Revolusi Industri 4.0.
Memahami urgensi tersebut, sejumlah pemimpin yang memiliki kepedulian terhadap sumber daya manusia Indonesia berinisiatif membentuk Rumah Mentor Indonesia. Inisiatif ini lahir dari keyakinan bahwa pengembangan pemimpin tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan ekosistem yang saling terhubung.
RUMI merupakan lembaga independen yang diinisiasi oleh 12 pemimpin dengan pengalaman dan kompetensi di bidang masing-masing, bersama Daya Dimensi Indonesia. Tujuannya adalah memberikan bimbingan dan arahan kepada generasi pemimpin selanjutnya demi mencetak pemimpin Indonesia yang unggul.
Lembaga ini dirancang untuk menyatukan para pemimpin Indonesia yang memiliki reputasi dan prestasi di bidangnya, sehingga pengalaman mereka dapat diwariskan secara terstruktur melalui mentoring formal dan inklusif.
Kedua belas pemimpin menjabat sebagai Steering Committee dan bertanggung jawab membawa RUMI meningkatkan kualitas SDM melalui praktik unggul dalam mentoring. Tanggung jawab mereka mencakup merumuskan pembentukan RUMI, menentukan mentor di tiap program sesuai standar, serta mengawasi kegiatan agar selaras dengan code of conduct.
Steering Committee RUMI, Kuntoro Mangkusubroto, menyatakan bahwa SDM menjadi salah satu fokus pengembangan pemerintah. RUMI hadir untuk memutus gap antar-pemimpin beda generasi sekaligus mendukung pemerintah membangun negeri melalui pengembangan SDM yang mampu bersaing hingga level internasional.
Untuk mengembangkan kemampuan para pemimpin, RUMI menghadirkan dua format utama program mentoring, yaitu one-on-one mentoring dan group mentoring. Pendekatan ini memungkinkan transfer pengetahuan yang lebih personal sekaligus kolektif, menyesuaikan kebutuhan pengembangan tiap individu maupun kelompok.
Melalui kolaborasi aktif dengan berbagai pihak, RUMI diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam mendukung pengembangan SDM unggul melalui penyediaan talent pool hingga skala nasional.
RUMI menempatkan kolaborasi sebagai fondasi utama ekosistem pengembangan pemimpin. Sinergi antara dunia usaha, institusi pendidikan, dan pemerintah menjadi kunci untuk memastikan talenta terbaik bangsa siap menjadi roda penggerak kemajuan negeri di masa depan.
Sekretariat RUMI dijalankan oleh Daya Dimensi Indonesia (DDI), konsultan leadership bagian dari Dayalima Family dengan pengalaman lebih dari 20 tahun membantu organisasi merancang dan menjalankan program strategis seperti assessment centre, selection, learning, serta personal & organisational transformation.
Lembaga independen yang diinisiasi 12 pemimpin nasional bersama Daya Dimensi Indonesia untuk membimbing generasi pemimpin berikutnya melalui mentoring formal dan inklusif.
Sekretariat RUMI dijalankan oleh Daya Dimensi Indonesia (DDI), konsultan leadership bagian dari Dayalima Family dengan pengalaman lebih dari 20 tahun.
RUMI menghadirkan dua format utama: one-on-one mentoring dan group mentoring untuk mengembangkan kemampuan pemimpin di Indonesia.
Talent ecosystem yang kuat membantu organisasi memutus gap antar-generasi pemimpin dan memastikan ketersediaan talent pool berkualitas untuk keberlanjutan bisnis.x