Dayalima Group menegaskan peran leadership development dalam pertumbuhan bisnis melalui workshop eksekutif eksklusif bersama Daniel Tumiwa, CEO Dayalima Group, di kantor Pakuwon Center, Surabaya, pada Rabu, 4 Maret 2026. Workshop “Spesial Ramadan” bertajuk “Beyond the Hustle: Creating a Business That Grows Without Dependence” ini dihadiri para pemilik bisnis dan pemimpin korporasi, mengupas hambatan kritis dalam scaling organisasi: bottleneck pengambilan keputusan yang berpusat pada founder. Di era yang menuntut kelincahan, Daniel menegaskan bahwa risiko terbesar bagi pertumbuhan perusahaan justru sering kali adalah orang yang memulainya sendiri.
Pada 4 Maret 2026, Dayalima Group menggelar workshop eksekutif eksklusif di kantor Pakuwon Center, Surabaya, menghadirkan Daniel Tumiwa, CEO Dayalima Group, untuk sesi berdampak tinggi. Workshop “Spesial Ramadan” ini bertajuk “Beyond the Hustle: Creating a Business That Grows Without Dependence”.
Dihadiri para pemilik bisnis dan pemimpin korporasi, sesi ini membahas hambatan kritis dalam penskalaan organisasi: bottleneck pengambilan keputusan yang berpusat pada founder.
Di era ketika kelincahan menjadi keharusan, Daniel berargumen bahwa risiko terbesar bagi pertumbuhan perusahaan justru sering kali adalah orang yang memulainya. Banyak bisnis tetap ‘stuck’ karena tim tidak dapat berfungsi tanpa arahan konstan dari pemilik.
Workshop menegaskan bahwa kepemimpinan sejati ditentukan oleh kemampuan membangun sistem yang bertahan melampaui keterlibatan harian seseorang—inti dari leadership development yang matang.
Sesi ini berfokus pada transisi strategis dari menjadi operator hands-on menuju peran ‘strategic architect’. Pergeseran ini menuntut pemilik bisnis melepaskan diri dari micromanagement dan beralih ke state of systemic coherence.
Pentingnya leadership development terlihat jelas di sini: pemimpin yang berkembang adalah mereka yang mampu membangun kapabilitas tim, bukan yang terus-menerus menjadi pusat dari setiap keputusan.
Dengan memadukan pengalaman lintas industri Daniel Tumiwa dan ‘System Driven Growth Blueprint’ milik Dayalima, peserta dibekali kemampuan memetakan bottleneck bisnis dan menerapkan delegation framework yang menjaga kualitas tanpa menimbulkan burnout.
Pesan utamanya tegas: sebuah bisnis baru benar-benar mulai bertumbuh ketika ia tidak lagi bergantung pada satu individu.
Dayalima Group adalah people strategist group yang membantu organisasi membangun pemimpin dan sistem yang berkelanjutan. Melalui workshop eksekutif seperti di Surabaya, Dayalima mendukung para pemilik bisnis bertransformasi dari operator menjadi arsitek strategis yang mampu menskalakan bisnis secara sehat.
“Beyond the Hustle: Creating a Business That Grows Without Dependence”—membahas cara membangun bisnis yang tumbuh tanpa bergantung pada founder.
Kondisi ketika bisnis tidak dapat berjalan tanpa arahan konstan pemilik, sehingga founder justru menjadi penghambat terbesar pertumbuhan.
Kerangka milik Dayalima untuk memetakan bottleneck bisnis dan menerapkan delegation framework yang menjaga kualitas tanpa burnout.
Karena pertumbuhan berkelanjutan menuntut pemimpin membangun sistem dan kapabilitas tim yang bertahan melampaui keterlibatan harian mereka.
DLABS, business unit Dayalima Group yang berfokus pada pengembangan kapasitas bisnis, sukses menyelenggarakan leadership workshop virtual bertajuk “WARNING: The Harder You Work, The More Your Business Depends on You” pada 23 Februari 2026. Menghadirkan Business & Executive Coach Prijono Nugroho yang berpengalaman lebih dari 25 tahun, workshop ini mengupas paradoks yang kerap dialami founder: semakin keras bekerja, semakin besar ketergantungan bisnis pada dirinya. Sesi interaktif ini membongkar tiga mitos delegasi yang menjebak pemilik usaha dan memperkenalkan framework Systemization → Operation → Profit—roadmap praktis agar bisnis berjalan independen, pemilik memiliki kebebasan waktu, dan pertumbuhan menjadi skalabel serta berkelanjutan.
Workshop dibuka dengan paradoks yang kerap dialami pelaku usaha: semakin keras founder bekerja, semakin besar ketergantungan bisnis pada dirinya. Kondisi ini bukan tanda dedikasi, melainkan sinyal bahaya yang menunjukkan absennya sistem bisnis yang kokoh.
Data yang dipaparkan cukup mengejutkan: 65% business owner lebih sering terjaga malam karena urusan bisnis dibanding masalah pribadi (Gallagher Survey, 2025), dan 66% belum memiliki sistem memadai untuk mengelola bisnis mereka (Mastercard Small Business Barometer, 2024). Tanpa sistem, bukan pemilik yang mengendalikan bisnis, melainkan bisnis yang mengendalikan hidup pemilik.
Coach Prijono membongkar tiga mitos yang menjebak banyak business owner. Mitos pertama, “kalau mau benar, harus kerjakan sendiri”—keyakinan ini sebenarnya indikasi trust deficit, bukan standar tinggi. Perbedaan antara working IN the business dan working ON the business menjadi titik balik bagi banyak peserta.
Mitos kedua, “tim saya belum siap”—padahal tim tidak akan pernah siap tanpa ruang untuk berkembang, yang membutuhkan sistem berisi Clarity, Trust, dan Accountability. Mitos ketiga, “nanti kalau bisnis sudah besar baru bisa lepas”—justru menciptakan trap loop. Coach Prijono menegaskan: bisnis menjadi siap karena Anda mendelegasikan, bukan sebaliknya.
Workshop memperkenalkan roadmap terstruktur yang menjadi fondasi program Business Coaching DLABS. Step pertama, Systemization—membangun sistem di empat area: teknologi, delivery & distribusi, pengukuran, serta pengembangan SDM. Step kedua, Operation—mengoptimalkan lima lever bisnis: lead generation, conversion rate, jumlah transaksi, rata-rata nilai penjualan, dan margin profit.
Step ketiga, Profit—hasil akhir berupa bisnis yang berjalan independen, pemilik dengan kebebasan waktu, serta pertumbuhan yang skalabel. Pesan kuncinya sederhana: build the system, run the operation, reap the profit.
Yang membedakan workshop DLABS dari webinar biasa adalah tingkat interaksinya. Peserta melakukan Flash Audit “Are You the Bottleneck?” dengan tiga pertanyaan diagnostik berskala 0–5, mengukur seberapa jauh bisnis bisa berjalan tanpa keterlibatan langsung pemilik.
Sesi dilanjutkan dengan Delegation Reality Check, Breakout Room Peer Wisdom, dan Future Visualization—membayangkan kondisi bisnis enam bulan ke depan dengan HP yang tidak lagi penuh notifikasi approval dan waktu untuk berpikir strategis, bukan sekadar mengerjakan operasional.
Prijono Nugroho adalah Business & Executive Coach dengan rekam jejak lebih dari 25 tahun sebagai senior leader di industri perbankan. Ia meraih gelar World’s #1 Coach (2011 & 2012), Global Hall of Fame Member ActionCOACH (2015), dan Coach of The Year Engage & Grow Global (2019). Dengan pendekatan berbasis behaviour, mindset, dan measurable performance, ia telah membantu ratusan perusahaan meningkatkan profitabilitas hingga mempersiapkan scale-up.
DLABS adalah business unit strategis di bawah Dayalima Group, people strategist group yang dipercaya ratusan organisasi di Indonesia dalam leadership development, business coaching, dan talent strategy. Melalui DLABS, Dayalima menghadirkan program berbasis bukti yang dirancang mendorong pertumbuhan bisnis nyata dan terukur.
“WARNING: The Harder You Work, The More Your Business Depends on You”—membantu business owner berhenti menjadi bottleneck di bisnisnya sendiri.
Roadmap tiga langkah: membangun sistem, mengoptimalkan operasi bisnis, lalu menuai profit dari bisnis yang berjalan independen.
Working IN berarti menangani operasional harian; working ON berarti membangun sistem, strategi, dan kapabilitas tim agar bisnis dapat tumbuh.
Business & Executive Coach dengan 25+ tahun pengalaman, World’s #1 Coach (2011 & 2012) dan ActionCOACH Global Hall of Fame (2015).